Sejarah Berdirinya Cendikia Mandiri ( Cemani )

Proses belajar mengajar Anak – anak Desa Kemloko

Terletak di lereng Gunung Sumbing, dikelilingi pepohonan dan ladang tembakau. Udara di sana kadang begitu menggigit. Angin gunung senantiasa bertiup menambah nyaman dan indahnya Desa Kemloko di pagi hari.

Desa yang tenang dan damai di wilayah Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ini rupanya menyimpan persoalan yang nyaris tak tersentuh oleh siapapun, bahkan juga pemerintah. Puluhan anak usia sekolah, hidup terlantar dan liar, tanpa kendali dan tak memiliki masa depan apapun.

            Kebanyakan dari mereka hanya tamat SD. Sungguh ironis, dari sekitar 80 anak yang lulus  SD setiap tahunnya, hanya 20 an saja yang mampu meneruskan ke tingkat SMP. 

            Biaya pendidikan yang mahal dan tidak terjangkau kebanyakan warga setempat, menjadi faktor utama mengapa sebagian besar anak-anak di Kemloko tidak sekolah. Hampir seratus persen warga Desa Kemloko hidup mengandalkan hasil pertanian, yaitu tembakau dan jagung yang makin tidak prospektif dan hanya bisa untuk bertahan hidup.

            Mereka nyaris tak mampu menyisihkan dana untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Bahkan tradisi menyisihkan uang untuk keperluan pendidikan itu pun tidak pernah terlintas di benak kebanyakan masyarakat setempat.

            Ditambah lagi dengan persoalan geografis. Untuk sampai ibukota kecamatan atau SMP terdekat, harus menempuh jarak lebih empat kilometer. Persoalan ini juga menjadi penyebab anak-anak malas turun gunung. Tidak terbayangkan jika pulang sekolah nanti, mereka harus jalan kaki naik gunung di bawah panasnya terik matahari dimusim kemarau, atau hujan lebat pada musim penghujan. Dengan kondisi ekonomi umumnya petani gunung, mereka tidak mampu menanggung beban transportasi jika harus naik  ojek. Maka pilihannya adalah, tidak sekolah.

Kondisi itu, memicu kesadaran beberapa gelintir orang yang tersentuh nuraninya. Mereka prihatin melihat kenyataan itu. lalu mereka bertemu dan berbincang,  lahirlah  kelompok kegiatan belajar Cendikia Mandiri, untuk memberikan alternatif pendidikan murah.

            Dimotori, ,  Nurul Karimah (guru asli Temanggung), Sri Yudhono ( Vice President Corpotate Transaktion Banking Sales Group Bank Mandiri, asal Temanggung) tinggal di Jakarta Anif Punto Utomo ( Redaktur Senior HU. Republika, asal  Temanggung)  tinggal di Jakarta dan Mohamad As’adi ( Wartawan Republika asli Temanggung) Asmaul Khusna (Psycolog / relawan), dan beberapa relawan lainnya. Mereka bergabung siap menjadi pendamping untuk proses pembelajaran anak-anak Kemloko. 

            Dari beberapa diskusi, muncullah sebuah ide yang terkonsep dan tertuang dalam bentuk tindakan. Diawali  studi banding ke sekolah  sejenis di Salatiga, beratatap muka dengan Kepala Desa, perangkat dan warga,  akhirnya terbentuk satu sekolah  bernama Cendikia Mandiri, yaitu sekolah/kelompok belajar setara SMP. Pendidikan kami beri nama  Kominitas Belajar Cendikia Mandiri

            Label Cendikia Mandiri dipilih, dengan harapan kelak anak-anak Kemloko lahir sebagai generasi baru yang terdidik dan memiliki kecerdasan intelektual dan emosional serta mampu bertahan hidup sesuai keterampilan yang mereka miliki.

            Untuk proses pembelajaran, Cendikia Mandiri mengambil konsep ‘Sekolah tanpa Beban’, artinya anak bisa mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai kebutuhan tanpa dibebani banyak biaya, seperti seragam, uang gedung atau buku-buku. Gedung sekolah bisa di mana saja, di ladang, di gunung dan di rumah penduduk.

            Komputer, dijadikan salah satu kebutuhan. Saat ini Cendikia Mandiri menetap di rumah salah satu penduduk dan sudah memiliki tiga unit komputer, yang kadang-kadang ditambah laptop oleh relawan yang memiliki.

Untuk melayani 35 anak, tentu ini sangat belum memadai. Idealnya, satu anak satu komputer, dengan harapan, internet menjadi salah satu basic proses pembelajaran di Kemloko. Kebutuhan lokal, nantinya juga menjadi garapan kelompok belajar ini. 

 Untuk membangkitkan minat baca bagi siswa Cendikia Mandiri, kebutuhan perpustakaan dirasakan cukup mendesak. Buku-buku yang ada sekarang ini masih sangat belum memadai. Sebuah perpustakaan yang ideal juga menjadi cita-cita para relawan dan pengelola kelompok belajar ini. 

            Mengubah pola pikir dan kultur memang tidak mudah, namun dengan kegiatan ini kami optimistis mampu melahirkan generasi yang berbeda, dengan sarana dan prasaran minimal sekalipun. Meskipun pertentangan paradigma kadang masih menjadi hambatan bagi keleluasaan kami menjalankan kegiatan tersebut. Kuadran pikiran yang negatif tentang sekolah alternatif menjadi momok bagi langkah kami.

Alangkah idealnya, jika mendapat banyak dukungan dari pihak manapun. Tentu bukan hanya relawan, buku, komputer dan sarana serta prasarana lainnya, melainkan juga dukungan yang bernama pengakuan dan support positif. Komunitas belajar Cendikia Mandiri resmi berdiri tanggal 27 Juli 2007.