PERKEMBANGAN CENDIKIA MANDIRI

Pada awalnya komunitas belajar CEMANI  menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak usia sekolah setingkat SLTP. Tetapi setelah berjalan beberapa waktu, ada beberapa anak  belum lulus SD ikut belajar, bahkan beberapa pemuda yang belum bisa baca tulis juga ikut belajar.

 Tiga tahun pertama ada 16 anak yang mengikuti ujian Paket B (setingkat SLTP) dan satu anak mengikuti ujian Paket A (setingkat SD). Dari 16 anak lulus Paket B, dua anak melanjutkan ke sekolah formal (SMK) dengan bantuan biaya dari Yayasan Cendikia Mandiri.

 Seiring dengan berjalannya waktu, tumbuh kesadaran masyarakat Kemloko akan arti pentingnya pendidikan. Maka pada tahun keempat ini CEMANI membuka program Paket C (setingkat SLTA) untuk menampung anak-anak yang  lulus Paket B.

Jumlah warga belajar Cemani saat ini terdiri dari 34 siswa Paket B dan 38 siswa Paket C . Dengan bertambahnya warga belajar, yang semula tempat kegiatan belajar di rumah penduduk berpindah ke balai desa. 

Selama ini kegiatan kami didanai oleh donatur perorangan yang tidak terikat. Dengan bertambahnya warga belajar dan  program kegiatan, maka bertambah juga kebutuhan dana  untuk operasional.

Dalam kegiatan pembelajaran, kami dibantu oleh 6 relawan pendamping Paket B dan 7 relawan pendamping Paket C. Selain itu  Cemani ke depan lebih mengutamakan pendidikan ketrampilan hidup dan pemberdayaan masyarakat.

Setelah berhasil  mengupayakan bantuan kambing dari gubernur dengan sistem gaduh untuk keluarga 2008 lalu, Desember 2010 lalu,  warga cemani belajar menanam kopi.  Tembakau sudah tidak bisa diandalkan lagi, selain tergantung cuaca yang tidak menentu, tembakau juga merusak lingkungan. Saat ini lahan  yang ditanami tembakau terus menerus menjadi lahan kritis.

Mengubah petani tembakau menjadi petani kopi memang sulit. Tetapi ketika warga belajar diajak studi banding  ke Tlahap dengan petani kopi yang sudah berhasil, mereka mulai membuka mata. Februari 2011 warga belajar Cemani sudah mulai menanam kopi, 1000 bibit kopi bantuan dari Prof. Mujiono.

Sayang sekali bibit kopi yang diberikan ke warga tidak dirawat dengan sungguh-sungguh sehingga banyak yang mati dan petani tetap lebih cinta Tembakau.

Tahun 2013, setelah dilaksanakan ujian paket B dan paket C, karena sesuatu hal, Cemani di Kemloko tidak aktif. Meskipun tidak aktif kegiatan, tapi kami tetap melayani peserta didik yang belum lulus ujian, untuk tetap bersiap-siap mengikuti ujian tahun berikutnya.

Pada saat itu Cemani membidani lahirnya PAUD di desa Lamuk Kecamatan Tlogomulyo dan membuka kelas Kota untuk menampung anak-anak putus sekolah di Kota.  Pada saat pertama buka ada 14 anak yang belajar di kelas Kota, terdiri dari anak-anak yang belum lulus SMP dan SMA.

Anak-anak putus sekolah di kelas Kota lebih kompleks masalahnya. Kalau di Kemloko, mereka yang putus sekolah akan membantu orang tuanya di ladang, atau bekerja apa saja, tapi kalau di kota akan menimbulkan masalah-masalah sosial yang beraneka ragam.

Selain kegiatan pembelajaran, anak-anak kelas kota juga diberi ketrampilan desain, sablon, reparasi HP, reparasi komputer dan kegiatan lain yang diinginkan peserta didik.

Anak-anak kelas kota yang masih usia muda dan putus sekolah SMP, setelah mengikuti pembelajran di Cemani dan lulus Paket B, sebagian besar kembali ke sekolah untuk belajar  di sekolah umum.  Kegiatan ini menjadi salah satu program Cemani “Mengembalikan anak-anak putus sekolah kembali ke sekolah”

Setelah sejak 2013 tidak aktif di Kemloko, tahun 2016 masyarakat Kemloko meminta kami untuk  aktif kegiatan di sana lagi seperti dulu.  Berawal dari empat  anak Kemloko usia SMP yang datang ke kelas Kota untuk ikut pembelajaran di kota. Dari mereka kami peroleh informasi masyarakat Kemloko membutuhkan Cemani.

Berbeda dengan awal saat Cemani datang ke Kemloko, dulu kami menjemput mereka untuk sekolah dan saat ini mereka yang mendatangi kami.  Menumbuhkan kesadaran pentingnya pendidikan memang butuh proses. Dulu kami hampir putus asa, setiap kami datang untuk kegiatan pembelajaran, harus menjemput  anak-anak lebih dahulu,  kami yang menunggu mereka, tetapi saat ini, mereka yang menunggu kami.